Tuesday, December 27, 2005

Si Hafidz

Tanggal 2 Desember lalu telah lahir seorang bayi lucu yang diberi nama Putra Hafiz Salamun oleh papa dan bundanya. Si imut ini anak pertama dari pasangan Rizki dan Putri Adikku.

Kelahiran seorang bayi ternyata sangat dahsyat karena bisa merubah beberapa orang tua disekitarnya. Dia pun juga membuat bahagia banyak orang.

Wednesday, November 23, 2005

Khadijah Binti Khuwalid

Rasulullah SAW berkata kepada Umar r.a. : "Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik harta simpanan ? Ia adalah wanita yang sholeh; apabila suami memandang kepadanya, maka dia merasa senang, jika suami menyuruhnya, dia menaatinya, dan jika suaminya tidak ada, dia memelihara diri dan harta suaminya." (H.R.Abu Dawud) .

Gambaran isteri yang Muslim tetap kukuh di dalam batin dan hati nurani kita. Itulah gambaran ideal bagi perilaku wanita Arab, yang kepemimpinannya terhadap keluarga tampak dalam memikul tanggung jawab. Dia di dalam rumah suaminya sebagai pemimpin dan penanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Sesungguhnya, hubungan dia dengan suaminya adalah berlandaskan saling mencintai, kasih sayang, pengutamaan orang lain, pemberian, pengorbanan, dan pembelaan.

Cukuplah sebagai pengakuan atas keutamaannya, bahwa hati pertama yang mendenyutkan Islam dan diteranginya adalah hati seorang wanita yang luhur budi dan mulia, yaitu Khadijah binti Khuwailid r.a., isteri Rasulullah SAW, setelah itu tidak ada yang melebihinya dalam hal memuliakan dan mengangkat derajat wanita dalam Islam.

Tatkala Rasulullah SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum Quraisy, maka di samping beliau berdirilah Khadijah r.a. Khadijah juga menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira' Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta, dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda : "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberikan apa-apa."

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada "wanita terbaik di dunia", yaitu Khadijah bin Khuwailid r.a., Ummu Mu'minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suaminya dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah r.a. mendahului semua orang dalam beriman kepada risalah Rasulullah SAW, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarganya. Maka, Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan, dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana diceritakan Nabi SAW kepada Khadijah di masa hidupnya.

Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata : "Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW di mana Imam Adz-Dzahabi berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, wahai orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?

Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu'min dan orang pertama yang beriman kepada Allah SWT di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafasnya yang terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepada beliau pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :"Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekah, kemudian kembali kepadaku." Maka Nabi SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah.

Khadijah berkata : "Gembira dan teguhlah wahai, putra pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau akan menjadi Nabi umat ini."

Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali peneguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya, dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan,men dinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita yang ideal itu.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirimkan salam kepadanya. Maka turunlah Jibril menyampaikan salam itu kepada Rasulullah SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda : "Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab : "Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya ber-asal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)."

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para sahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da'wah itu sesudahnya. Dan sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah SWT yang besar kepada Rasulullah SAW.

Khadijah r.a. mendampingi Rasulullah SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan harta dan jiwanya.

Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6/118]

Monday, November 21, 2005

JIKA AKU JATUH CINTA

Ya Allah, jika aku jatuh cinta…
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu

Ya Muhaimin, jika aku jatuh hati…
Izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu
Agar tak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati…
Jagalah hatiku padanya, agar tidak berpaling dari hatiMu

Ya Rabbul Izzah, jika aku rindu…
Rindukanlah aku pada seseorang, yang merindui syahid di JalanMu

Ya Allah, jika aku rindu…
Jagalah rinduku padanya, agar tidak lalai aku merindukan perjumpaan denganMu

Ya Allah, jika aku menikmati cinta hambaMu…
Janganlah kenikmatan itu melebihi indahnya bermunajab di sepertiga malam terakhirMu

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui hambaMu
Jangan Kau biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya padaMu
Aa Gym

Thursday, November 17, 2005

Bagaimana yah......

Ingin jadi muslimah kaffah....

Yang aq tau Islam itu indah.....
Tapi kenapa yang banyak terlihat tidak indah

yang aq tau persaudaraan islam itu indah...
tapi kenapa tidak tercermin dalam keseharian kita...

yang aq tau semua muslim itu bersaudara...
tapi kenapa banyak pembatas yang tercipta...

yang aq tau islam itu rahmatan lil Alamin...
tapi kenapa sesama saudara kita tidak saling menyayangi

yang aq tau islam itu mengajarkan keseimbangan....
tapi kenapa aq banyak melihat ketidak adilan...

Friday, October 28, 2005

bisa i'tikaf nggak ya... malam ini :-(

Duh sebel banget deh...
aq dah mo pulang dan siap-siap mo ke Al-Azhar...
nggak taunya ada jadwal meeting malem-malem...
sebel.....

masa bulan puasa gini jadwalin meeting malem sih :-(
nggak tahu tuh mo bahas apa......

jadi nggak ikhlas nih......

Tuesday, October 25, 2005

JASA ORANG TUA KITA

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.
Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.

Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"

" Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. "Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

"Ada apa nona?" Tanya si pemilik kedai.

"tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,...

ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah"

"Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata

"Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak
berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.

"Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak
untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan
malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang"

Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.

Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.

SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA.
TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.

PIKIRKANLAH HAL ITU......

APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG INDAH DIDALAM TUHAN

"The truth of Islam terletak pada aqidahnya, the justice of Islam pada syariahnya, dan tthe beauty of Islam pada akhlaknya"


*********************************************
Setiyo Budi Achmad

Friday, October 21, 2005

Apa Yang Kita Sombongkan?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegunkeheranan.
Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat.
Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi
sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih
halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence).

Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada
sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan KESADARAN sejati di lain kutub.

Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL.

Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya.

Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang
lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Monday, October 17, 2005

The Rose


Sediakan waktu untuk bekerja; itulah harga sebuah keberhasilan.
Sediakan waktu untuk berpikir; itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain; itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca; itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman; itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi;
itulah yang membawa kereta anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai; itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda;
hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa; itulah musik jiwa.

from : MyQuran

Renungan Bersama

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata.
Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati.
Untuk menyadari, betapa ia dicintai.

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri.
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati,
berusaha meraih yang tidak dapat diraih,
memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan,
tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri,
tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini,
apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih,
dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan,
karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.

Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati.

Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah,
ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang,
selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal,
belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain,
siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati.

Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya,
mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain,
dan mau menerima orang lain.

Thursday, October 13, 2005

BAGAIMANAKAH KAU BISA

Bagaimanakah kau bisa mengerti perkataanku ...
Mendengarkannya saja engkau tidak
Kerana, untuk mengerti sebuah perkataan
Kau harus mendengarkan setiap kata.

Bagaimana kau bisa fahami tulisanku ...
Membacanya saja engkau tidak
Kerana untuk memahami sebuah tulisan
Kau harus membaca setiap tulisan kata

Lalu.. bagaimana kau akan mengerti tentang CINTA
Menangis saja kau tak bisa
Kerana dalam cinta ada pengorbanan
Dan setiap pengorbanan ada tangisan, meskipun tanpa air mata

Lalu... Bagaimana kau bisa berdoa ...
Mengenal ALLAH saja kau tidak
Kerana untuk bisa mencipta sebuah doa
Kau harus tahu kepada siapa kau meminta ...

Wednesday, October 12, 2005

9 Ramadhan

Sudah 8 hari berlalu dan ini adalah hari yang ke 9
tapi rasanya ibadah yang aq kerjakan belum juga optimal...
duh gimana ini...

kebut tilawah juga masih ketinggalan ,
hari gene.. masih juz 5
wadau... udah rugi 8 hari ini :'(

jadi inget semalam di Al Azhar aq ketemu seorang teman yang menyenangkan.
kami cepat merasa akrab dan dia bercerita kalo dia sedang cari kerja...
sewaktu kami mo pulang... dia disapa oleh teman sekantornya dulu...
sambil lalu dia tanya ada lowongan kerja ?
dijawab temennya ada... cuma kalo untuk yang pake jilbab kayaknya nggak bisa...
sedih banget deh mengdengarnya...
padahal yang ngomong itu muslimah
dan beliau itu juga gemar beribadah... tapi kok begitu yah...?
aq prihatin sekali akan hal ini...
semoga dalam ramadhan ini aq bisa meningkatkan qualitas diri
sehingga bisa menjadi muslimah yang potensial(cieeeeh)

karena itu mulai saat ini
insya Allah aq akan berupaya maximal...

Thursday, September 22, 2005

Curhat-Q hari ini

Ya Allah...

betapa cepat engkau membolak balik hati hamba MU
betapa cepat hati berbalik atas kehendak Mu

Ya Allah...

Engkau memberi masalah beserta solusinya
Engkau memberi cobaan tapi juga mengirimkan penawarnya

Alhamdulillah... aq terlahir dalam lingkungan yang mengenal Engkau
Alhamdulillah... Ya Allah

Wednesday, September 21, 2005

Buku Sang Alkemis

Linda sedang baca Buku yang Judulnya Sang Alkemis. Sebenarnya buku itu nggak terlalu menarik kalo Linda nggak denger ungkapan seseorang di radio tentang buku itu.

Buku itu memang buku yang cukup menarik sebagai buku yang membangkitkan motivasi orang untuk mempelajari tanda-tanda di alam ini.
Tapi komentar orang di radio itu sangat sangat gimana gitu.
Dia pernah baca buku itu di London (kalo nggak salah) dan dia nggak percaya bahwa buku yang sama telah di terbitkan di Indonesia versi Indonesia.

Linda nggak habis pikir... kenapa orang itu berpikir begitu, apa buku itu terlalu hebat sehingga hanya orang hebat seperti dia saja yang pantas membaca buku itu atau orang Indonesia itu terlalu bodoh untuk memahami buku itu. aneh juga yah padahal dia itu(yang kasih komentar diradio) orang Indonesia.

Kalo dipikir-pikir dalam buku itu kita banyak di ingatkan untuk membaca alam yang dalam istilah dibuku itu disebut sebagai pertanda. Padahal kalo kita ingat surat pertama yang diturunkan Allah itu isinya Bacalah yang artinya kita memang disuruh untuk selalu membaca, bukan cuma baca buku tapi juga kita harus bisa membaca Alam dengan cara banyak memperhatikan Alam.

kembali ke buku sang alkemis itu... artinya kita diingatkan kembali untuk sering-sering mempelajari alam. buku itu cuma menjabarkan apa yang sudah ada di Al Quran.
kalo gitu sebenarnya yang hebat itu buku itu or Al-Quran yah :-?
buku itu memang bagus... tapi bagusan Al Quran tentunya.

Monday, July 04, 2005

Bagaimana AlQur'an Menjawab Permasalahan Manusia

Manusia : Kenapa aku diuji?
Qur'an :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2)

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

Manusia : Kenapa aku gagal?
Qur'an :

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Manusia : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an :

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)

Manusia : Aku frustasi!
Qur'an :

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

Manusia : Bagaimana aku harus menghadapinya?
Qur'an :

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)

Manusia : Apa yang aku dapat dari semua ini?
Qur'an :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)

Manusia : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an :

….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)

Manusia : ...................???
Qur'an :

………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)

Wednesday, June 29, 2005

Mengikis Futur

Futur. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ruhiyyah seseorang yang sedang menurun. Atau dengan istilah yang lebih sederhana, futur ialah "penurunan semangat beribadah."

Ketika seseorang yang biasa bersemangat menamatkan Al-Qur'an satu juz dalam satu hari, kemudian menurun atau tiba-tiba kehilangan semangat membaca Al-Qur'an, maka itulah futur. Atau juga ketika seseorang yang jiwa sosialnya tinggi, perhatian dan peka terhadap kondisi saudara-saudaranya se-aqidah, suatu waktu ia merasa berat dan tidak mampu memperhatikan orang lain, kepekaannya menurun, egonya meningkat, dan bahkan berdiam diri ketika saudaranya sedang membutuhkan pertolongan. Atau fenomena lain dari futur adalah ketika orang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahyi munkar, tapi –suatu waktu – kemudian semangat amalnya menurun dan bahkan mungkin –ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan – akhirnya ia sendiri melakukan penyimpangan-penyimpangan amal.

Memang, futur itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada futur yang masih tergolong rendah dan ada futur yang sifatnya kronis. Futur yang terbilang rendah, biasanya tergambar dalam penurunan kualitas dan kuantitas ibadahnya saja. Artinya ia masih berada di rel yang benar, ia masih mengikuti gerbong Al-Qur'an dan as-Sunah. Meskipun, kadang ia tertatih-tatih di rel itu, dan bahkan teringgal di belakang.

Futur yang seperti ini, pada permulaannya memang tidak terlalu berbahaya, karena hal itu merupakan tabiat manusia, bahkan itulah -mungkin- yang dimaksud dengan al-imanu yazidu wa yanqusu, Iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Fluktuatif keimanan merupakan hal yang wajar bagi setiap orang, karena tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya benar, seperti halnya tidak ada yang selamanya salah.

Akan tetapi, ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan dalam rentang waktu yang cukup lama, maka tentu saja lambat laun ia akan merosot dan terus merosot. Kualitas keimanannya semakin lama akan semakin rendah dan lemah. Dan bahkan mungkin saja, ia akhirnya terperosok pada futur "skala tinggi." Bukan hanya penurunan kuantitas dan kualitas ibadahnya saja yang nampak pada dirinya, akan tetapi, lebih besar dari itu, ia tidak lagi berada pada rel ketaatan. Ke-futur-annya digambarkan dengan beralihnya taat menjadi maksiat, pahala dengan dosa. Na'udzubillah min dzalik.

Memang, manusia tidak ada yang bisa lepas dari kesalahan. Setiap orang pasti ada yang pernah berbuat kesalahan dan dosa. Karena ia bukanlah malaikat yang senantiasa patuh dan taat kepada Allah. Hal ini, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya; "Setiap Bani Adam itu pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat."

Akan tetapi, kalau kita cermati lagi hadits di atas, sebenarnya yang menjadi titik permasalahannya –dan itu yang sering tidak kita perhatikan– adalah ada atau tidaknya proses taubat yang dilakukan oleh orang yang telah berbuat kesalahan tersebut. Oleh karena itu, kesalahan –dalam batasan tertentu – bagi manusia merupakan sebuah kewajaran, akan tetapi terus menerus dan terlena dalam kesalahan tersebut merupakan ketidakwajaran.

Hal ini pun secara jelas telah disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an, Ia berfirman; "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS 4:17)

Taubat inilah yang menjadi standarnya. Oleh karena itu ketika dalam kesalahannya ia tidak segera bertaubat (kembali pada Allah), maka kesalahannya itu bukanlah sebuah kewajaran lagi. Allah berfirman, "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS 4:18)


Kembali pada permasalahan futur, maka sebenarnya yang diperlukan oleh seorang muslim adalah komitmen dan keistiqamahan dalam setiap amal. Dan tentu saja semuanya harus dibarengi dengan bertahap dan tidak berlebihan (ghuluw). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (H.R. Muslim).

Oleh karena itu, ketika ia mengalami ke-futur-an pun, maka futur-nya itu tidak keluar dari "rel yang benar", dan ia tidak melakukan sebuah penyimpangan amal. Dalam sebuah hadits pun disebutkan bahwa futur merupakan sebuah fenomena yang menggambarkan batasan juhud (kesungguhan beramal) seseorang, ada yang tetap berada dalam bi'ah imaniyyah, ada juga yang keluar dari rel dan berbuat penyimpangan.

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami ke-futur-an (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada sunnahku, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka.” (HR Imam Ahmad)

Selain dari itu, perjuangan melawan futur harus dimulai dari hati. Karena hati merupakan pusat dari segalanya, sebagaimana dalam hadits, “Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya”. Kebeningan hati dan ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis futur dan mengembalikannya kepada ghirah dan hamasah beramal yang tinggi.

Maka, di sinilah pentingnya kita senantiasa mengontrol kondisi ruhiyyah-nya, menimbangnya dengan timbangan-timbangan amal keseharian, sehingga ia bisa segera menyadari apa yang sedang terjadi pada ruhiyyah-nya.

Wallahu a’lam

from Eramuslim - Haris Ramlan

Monday, June 13, 2005

Jangan mau jadi orang gajian

Valentino -> jangan mau jadi orang gajian
1. tujuan hidup yang jelas
2. kejarlah cita-cita yang diimpikan
3. Sensor ekuity,pelajari yang telah berjalan, apakah sudah mendekati cita-cita yang diinginkan atau malah menjauhkan
4. Fleksibleity

Friday, June 03, 2005

Check List Cinta Kepada Rasulullah

Bismillahir rahmanir rahiem

Firman Allah (swt):
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Qs Al Ahzab 33:21)

Alhamdulillah, hampir setiap dari kita mengklaim bahwa kita mencintai Rasulullah (saw). Ini adalah perkara yang baik dan bagus. Namun demikian, setiap dari kita memiliki kadar cinta yang berbeda.

Sebenarnya kita dapat menghisab sendiri berapa kadar cinta kita kepada Rasulullah (saw). Caranya adalah dengan membandingkan keadaan kita terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beberapa aspek kehidupan beliau, baik yang nampak ataupun yang sampai kepada kita.

Adalah lebih mudah bagi kita untuk mengukur sesuatu dengan angka2 daripada suatu diskripsi. Untuk keperluan itu, chek list berikut ini barangkali dapat menjadi panduan (kasar) bagi kita untuk dapat mengukur hal itu. Kita dapat membandingkan berapa besar dan berapa banyak hal yang dapat kita amalkan dan kita teladani dari kehidupan suci Rasulullah (saw).

Chek list ini terdiri dari 100 point. Nilai 1 untuk point yang telah dapat kita amalkan dan nilai 0 untuk point yang belum dapat kita amalkan. Khusus bagi kaum wanita, yakni untuk beberapa hal yang hanya dapat dilakukan oleh kaum lelaki, maka nilai 1 untuk persetujuan, kesediaan atau dorongannya terhadap suami atau ayahnya dan nilai 0 untuk penolakannya.

Dakwah
Rasulullah (saw):
[ ] giat mengunjungi rumah2 yang ada di dalam kotanya.
[ ] menemui musafir2 yang berkunjung ke kotanya.
[ ] membujuk manusia meninggalkan tuhan selain Allah.
[ ] membujuk manusia untuk berbakti kepada Allah.
[ ] bergerak dari pintu ke pintu dan dari kemah ke kemah.
[ ] berjalan atas maksud dakwah ke kota (negeri) lain.
[ ] menjelajah ke penjuru2 negeri (hingga ke Tabuk).
[ ] membentuk rombongan2 dakwah ke negeri2 lain.
[ ] menjadikan sahabat2-nya da'i yang tangguh/tahan uji.
[ ] meninggalkan rumah, anak-istrinya sekitar 25 kali.

Ta'lim
Rasulullah (saw):
[ ] menyampaikan semua ayat yang diwahyukan Allah.
[ ] menyampaikan semua ilmu dan pengetahuannya.
[ ] menjadi orang pertama yang mengamalkan seruannya.
[ ] membuat orang lain memahami apa yang dipahaminya.
[ ] menjadikan sahabat2-nya yakin kepada janji2 Allah.
[ ] menghidupkan ta'lim & ta'lum di setiap rumah mukmin.
[ ] mengupayakan setiap mukmin guru bagi anak2-nya.
[ ] mengkondisikan orang2 mau menyampaikan agama.
[ ] memudahkan orang2 awam dalam memahami agama.
[ ] menjadikan sebagian sahabatnya ulama dan ahli fatwa.

Ibadah
Rasulullah (saw):
[ ] sholat dengan penuh khusyu & tawajjuh kepada Allah.
[ ] sholat dengan gerakan tu'maninah dan bacaan tartil.
[ ] adakalanya berterusan sholat hingga kakinya bengkak.
[ ] adakalanya sholat malam dengan menangis ter-isak2.
[ ] selalu cermat untuk mengeluarkan zakat dari miliknya.
[ ] puasa pada bulan ramadhan dengan se-baik2 kualitas.
[ ] menetapi puasa sunnah pada hari2 yang tertentu.
[ ] adakalanya berterusan puasa hingga beberapa pekan.
[ ] melaksanakan haji bersama keluarga & jamaahnya.
[ ] menyembelih kurban saat haji untuk setiap umurnya.

Khidmat
Rasulullah (saw):
[ ] menolong pekerjaan yang ada di rumah istri2-nya.
[ ] menyelesaikan sendiri keperluan pribadi yang ringan.
[ ] menanggung anak2 yatim dari istri2-nya yang janda.
[ ] memberi makan musafir2 yang datang ke masjidnya.
[ ] memberi makan ahli-suffah2 yang ada di masjidnya.
[ ] membiarkan masjid menjadi tempat para ahli suffah.
[ ] adakalanya meminjam untuk menjamu tamu2-nya.
[ ] menghamparkan sorbannya untuk tamu istimewa.
[ ] menyuapi orang buta yang suka men-jelek2-kannya.
[ ] pernah menggadai barang miliknya untuk hidupnya.

Jihad
Rasulullah (saw):
[ ] membangkitkan semangat jihad para sahabatnya.
[ ] memimpin sendiri beberapa safar/ekspedisi jihad.
[ ] adakalanya berada pada barisan paling depan.
[ ] tak gentar dengan minimnya pasukan & fasilitas.
[ ] memohon bantuan Allah dengan salat dan sabar.
[ ] menggali parit pertahanan bersama sahabat2-nya.
[ ] memiliki bekas luka di wajah dan di kepalanya.
[ ] memiliki sebagian gigi yang patah asbab perang.
[ ] memberi ghanimah kepada sahabat2 muhajirin.
[ ] memberi akhir hidupnya untuk sahabat2 anshar.

Tampilan
Rasulullah (saw):
[ ] memelihara rambutnya hingga ke cuping telinganya.
[ ] memelihara janggut minimal sepanjang kepalannya.
[ ] mencukur kumisnya (hingga habis atau tipis saja).
[ ] mencabuti bulu ketiaknya hingga nampak putih.
[ ] mengoleskan celak di sekitar kedua matanya.
[ ] memakai penutup kepala atau songkok (amamah).
[ ] memakai sorban (7 hasta) pada hari2 yang tertentu.
[ ] sering memakai pakaian dari kain wol yang kasar.
[ ] lebih menyukai gamis daripada pakaian lainnya.
[ ] lebih menyukai pakaian berwarna putih bagi lelaki.

Hal Nikah
Rasulullah (saw):
[ ] menikah pada usia 25 th (Fatimah pada usia 18 th).
[ ] istri pertama usianya 40 tahun (berbeda 15 tahun).
[ ] mencukupkan satu orang istri selama 25 tahun.
[ ] menikahi (menanggung) lebih dari satu orang istri.
[ ] istri pertama wanita yang sudah 2 kali menjanda.
[ ] istri kedua seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] istri ketiga seorang gadis muda anak sahabatnya.
[ ] istri keempat seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] mengundang orang2 miskin dalam acara walimah.
[ ] menikahkan banyak orang yang bersendirian.

Akhlak
Rasulullah (saw):
[ ] menjaga silaturrahmi di dalam sanak keluarganya.
[ ] mengundang makan sanak keluarga ke rumahnya.
[ ] lemah lembut kepada keluarga dan kaum wanita.
[ ] menziarahi orang sakit yang menyusahkannya.
[ ] tidak marah untuk kesalahan2 yang melukainya.
[ ] memohon hidayah bagi orang2 yang menyakitinya.
[ ] belas kasih dan sayang kepada para sahabatnya.
[ ] membalas pemberian dengan yang lebih baik lagi.
[ ] bersikap tegas kepada orang2 kafir dan musyrik.
[ ] bersikap lunak kepada orang2 munafik dan awam.

Keutamaan Lain
Rasulullah (saw):
[ ] merisaukan keselamatan ummat ini hingga wafat.
[ ] menolak kekuasaan dan mengutamakan dakwah.
[ ] menempatkan dirinya rahmat bagi seluruh alam.
[ ] bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
[ ] menangisi orang mati yang belum didakwahinya.
[ ] menampik tawaran untuk mendapat gunung emas.
[ ] menyukai keadaan sehari kenyang dan sehari lapar.
[ ] menolak lantai yang ditinggikan (meja) untuk makan.
[ ] menjilati/menyisipi jari2-nya dari bekas makanan.
[ ] membawa seorang istri dalam safar dakwah tertentu.

Kualitas Lain
Rasulullah (saw):
[ ] beberapa kali mengganjal perutnya dengan batu.
[ ] menjadikan sahabat2 utamanya 'sami'na atho'na'.
[ ] menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan2-nya.
[ ] menegur istri yang membuat tilamnya lebih empuk.
[ ] menegur istri yang membuat dinding kamar dari batu.
[ ] memberi amalan untuk benda yang diminta anaknya.
[ ] kaya pada awalnya dan miskin pada akhir hayatnya.
[ ] didukung sahabat2 setia dari Asia, Afrika dan Eropa.
[ ] mendorong safar para mukmin hingga ke ujung dunia.
[ ] memberi pengampunan massal pada hari suksesnya.

Total ___%

Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (bantuan) Allah (swt). Oleh karena itu, kepada Allah jualah kita mohon pertolongan agar Dia memberi kita kekuatan lahir & bathin untuk menjadi seperti Rasulullah (saw) 100%, tentu saja terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beliau. Subhanallah.

Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 30/05/2005

Friday, May 20, 2005

Muhasabah Q

Wah sampai sekarang udah banyak yang aq langgar.
>>1. Nggak boleh males bangun malam tuk QL
mo QL eh bangunnya pas subuh... nggak jadi deh :-)
>>2. Nggak boleh bobo lagi setelah subuh...
kalo ini mah udah diisi dengan ngobrol dengan Sari
>>3. Nggak boleh ngenet pagi dari rumah, sebab bisa males kekantor.....
ini juga dilanggar sebab Sari minta ajarin cara register di MyQ
>>4. Jam 8 siap-siap kekantor.
ini juga bablas, karena asik ngobrol dan leyek-leyeh

kalo yang ini akan dijalanin cuma belom siap siap juga neh....
5. Untuk besok aq mo ke mang2 dulu beli hardware(moga aja dolar lagi murah)
6. Kekantor...

Cur-Hat

Wah kemarin aq sedih juga deh, dateng kekantor nggak ada kerjaan...

Nggak enak juga sih, soalnya nyampe kantor udah jam 15.30. Kebangetan juga sih, masa dateng jam segitu. Cuma males banget untuk dateng lebih awal, karena temen-temen juga dateng diatas jam 12.

Tapi setelah aq pikir lagi, aq jadi agak sedikit terhibur. Sebab kemarin itu teman-temanku sibuk mengurus program undian berhadiah untuk pelanggan. Aq pikir sih bagus juga kemarin agak BT dan nggak nyumbang terlalu banyak kerja untuk program undian itu.

Ya ini lah masalahku sekarang, mo berisaha ibadah secara kaffah cuma belum hijrah. Semoga Allah memberi kesempatan aq untuk hijrah dalam waktu yang tidak terlalu lama, Amin

Thursday, May 19, 2005

Diary, aq lagi males nih....

Demi masa....
Sesungguhnya manusia dalam kerugian....


Padahal udah tau kalo akan rugi tapi masih juga bermalas-malasan.
Hari ini aq pergi ke kantor dengan males...
udah dateng siang pake acara ke Blok M dulu lagi...
nyampe kantor jam 15.30

aduh.... gimana yah biar hidup ini nggak jadi orang yang rugi....

Padahal aq lagi pengen banyak meningkatkan amalan-amalan, tapi kenapa males menghinggapi diriku terus... gimana nih....
Padahal banyak cita-citaku yang harus di perjuangkan tapi kenapa diri ini belum cukup bersungguh-sungguh juga.

Mulai besok aq harus berubah....!!!

1. Nggak boleh males bangun malam tuk QL
2. Nggak boleh bobo lagi setelah subuh...
3. Nggak boleh ngenet pagi dari rumah, sebab bisa males kekantor.....
4. Jam 8 siap-siap kekantor.
5. Untuk besok aq mo ke mang2 dulu beli hardware(moga aja dolar lagi murah)
6. Kekantor...
7. Nyiapin komputer mbakyu pepi biar bisa selesai hari Sabtu
8. pulang kantor jam 7 malem dan jangan biasain pulang lewat dari jam itu...(biar nggak kebawa arus kantor)
9.
Jangan lupa muhasabah besok, sekalian cek list apa catatan hari ini banyak yang nggak sesuai jadwal...
10. Bobo jam 10 biar aktifitas besoknya OK.

Tuesday, May 17, 2005

Waktu adalah Kehidupan

Waktu adalah Kehidupan

Tidak yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain "waktu". Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Saking mahalnya, Allah (sampai) bersumpah: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal saleh, (saling) nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam (menapaki) kesabaran" (Qs. Al-'Ashr [103]: 1-3).

Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah "kehidupan", al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata as-Syahid Hasan Al-Banna. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan umatnya agar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan lima hal.

Beliau bersabda:
Manfaatkanlah (oleh kalian) lima hal sebelum datang lima hal
masa mudamu sebelum tiba masa tuamu,
waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
masa kayamu sebelum datang waktu fakirmu,
waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu dan
hidupmu sebelum datang kematianmu

(HR. Hakim. Sanadnya shahih dari Ibnu Abbas).

Pertama, masa muda. Masa muda adalah masa keemasan seorang manusia. Ia merupakan masa ideal untuk melakukan apa saja: mengukir prestasi dan menggapai cita-cita. Bahkan, masa muda adalah masa yang harus "dipertanggungjawabkan" di hadapan Allah.

Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw: "Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut" (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Bayangkan, setelah Allah mempertanyakan "umur", Ia mempertanyakan "masa muda" secara khusus. Dalam Islam, masa muda adalah bagian dari "umur". Ia dianggap sebagai masa yang dinamis, energik, cekatan dan kuat, karena ia merupakan "kekuatan" di antara dua kelemahan: kelemahan anak-anak dan kelemahan masa tua.

Hal ini dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban..." (Qs. Ar-Rum [30]: 54).

Oleh karenanya, Islam memiliki perhatian khusus kepada para pemuda. "Suatu ketika, khalifah Umar radhiyallahu 'anhu duduk dengan para sahabatnya. Ia berkata kepada mereka: "Berangan-anganlah kalian!" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku berangan-angan, seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas untuk aku infakkan di jalan Allah." Umar lalu berkata: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Salah seorang lagi berkata: "Aku berangan-angan sekiranya rumah ini dipenuhi dengan permata agar aku infakkan di jalan Allah dan bersedekah dengannya." Lalu Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Mereka lalu berkata: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan wahai Amirul mukminin?" Umar berkata: "Aku justeru berangan-angan agar ada orang-orang seperti Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu'adz ibn Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, agar aku dapat meninggikan "kalimat Allah" dengan bantuan mereka."

Bayangkan, Umar malah menginginkan para pemuda. Bukankah Mu'adz ibn Jabal seorang faqih yang diutus oleh Rasul ke Yaman? Ketika itu usianya masih muda. Begitu juga dengan Salim: ia termasuk salah seorang perawi hadits. Usianya juga masih muda. Dalam sejarah Islam juga dikenal Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel. Saat itu usianya tidak lebih dari 22 tahun.

Tidakkah kita lihat seorang Usamah ibn Zaid pergi ke medan perang ketika usianya masih 15 tahun. Padahal ketika usinya 14 tahun semangat jihadnya sudah berapi-api: ia ingin cepat berada di shaf para mujahid Allah. Namun Nabi saw melarangnya, karena masih teramat muda. Ia juga pernah menjadi pemimpin pasukan Rasul, padahal saat itu para sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ada. Namun Rasul saw mempercayakan kepadanya.

Adalah hal yang ironis jika masa muda dihabiskan untuk "berfoya-foya". Apalagi dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Dan, na'udzubillah, jika sampai melakukan tindak kriminal yang tidak diridhai oleh Allah, seperti mengkonsumsi NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif) dan hobi "mencekek leher botol" alias mabuk-mabukan. Ini sama artinya menghancurkan umat. Tidak dapat dibayangkan jika para pemuda justru tidak produktif. Apa yang akan dipersembahkan untuk Islam?

Kedua, masa sehat. Pepatah Arab menyatakan: "As-Shihhatu tajun 'ala ru'us al-asiha' laa yaraaha illa al-mardha" (Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat dan tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang yang sakit). Itulah kesehatan. Kita terkadang lupa akan arti dan makna kesehatan, kecuali setelah kesehatan itu hilang dari kita. Ketika "sakit" datang menggantikannya, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu mahal. Masa sehat sebaiknya kita gunakan untuk beramal saleh: membantu orang tua, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, sebelum kita kita tidak bisa berbuat banyak. Kalau masa sakit sudah tiba, kita tidak akan pernah sempurna melakukan apapun: ibadah terganggu, pekerjaan terbengkalai, semangat menurun, dsb. Maka manfaatkanlah "masa sehat" ini dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, masa kaya. Kekayaan adalah "titipan Allah". Maka, ia tidak layak untuk disombongkan dan dibanggakan. Selagai masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah kekayaan itu untuk berbakti kepada Allah: membiayai edukasi anak, berinfak di jalan Allah (membangun masjid, rumah sakit, madrasah, dsb), membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar, membiayai panti asuhan, dan lain-lain. Karena, jika sudah jatuh miskin, kesempatan untuk beramal saleh pun sirna. Maka, segeralah nafkahkan harta yang ada, sebelum semuanya sia-sia. Utsman ibn Affan adalah contoh ideal dalam berinfak. Ia membeli sumur Maimunah untuk kepentingan kaum Muslimin. Begitu juga dengan Abdurrahman ibn 'Auf. Ia adalah contoh konglomerat yang dermawan: orang kaya tapi takut harta. Lain lagi dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq: ia meninggalkan "seonggok batu" untuk keluarganya. Ia menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Beliau bahkan berlomba dengan Umar ibn Khaththab. Akhirnya ia menang, karena Umar ibn Khaththab menafkahkan setengah dari hartanya, sedangkan ia menafkahkan seluruh hartnya di jalan Allah.

Keempat, masa luang. Waktu luang adalah kesempatan emas untuk menginventarisir kebajikan. Waktu luang ini akan sia-sia jika tidak dikontrol. Ia akan terbuang begitu saja jika tidak langsung dimanfaatkan. Oleh sebab itu makanya Nabi saw mengingatkan: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang (kekosongan)" (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Waktu luang adalah "kekosongan": kosong dari kegiatan yang positif. Jangan biarkan waktu itu kosong melompong dan berlalu tanpa makna. Tidakkah kita ingin waktu luang itu kita isi dengan membaca Alquran, shalat Dhuha, shalat Witir, shalat Tahajjud, dsb. Janganlah waktu luang itu dikhianati dengan "senda gurau" yang tak bermakna. Karena jumlah waktu itu sama di mana saja, 24 jam.
Bagi tigalah ia: sebagian untuk kesehatan (istirahat, olah-raga, bercanda seperlunya), sebagian lagi untuk jasmani (makan dan minum) dan sepertiga terakhir untuk Allah.

Imam Ibnu Jarir al-Thabari menurut al-Khathib al-Baghadadi dari al-Samsiy, setiap harinya mampu menulis sekitar empat puluh lembar. Jangan berleha-leha dalam memburu kebaikan. Imporlah segala jenis kebaikan, lalu eksporlah ia ke akhirat sana. Al-Tu'adatu fi kulli syain khairun illa fi a'mal al-akhirah (Berlaku santai dalam setiap sesuatu itu baik, kecuali dalam amal akhirat), kata Umar ibn Khaththab.

Imam Nawawi ra memberikan nasehat yang sangat berharga: "Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu untuk mengumpulkan ilmu di waktu luang dan semangat yang menggebu-gebu, masa muda dan ketika tubuh masih kuat, ketika keinginan masih menggunung dan kesibukan masih sedikit sebelum tiba hal-hal yang tanpa makna".

Kelima, hidup. Kesempatan hidup hanya sekali. Umur begitu singkat. Kita mengira umur itu begitu panjang. Padahal ia hanya terdiri dari tiga helaan nafas: nafas yang lalu, yang sudah kita hempaskan; nafas yang sedang kita hirup dan akan kita hembuskan; dan terakhir nafas yang akan datang. Kita tidak tahu apakah nafas yang akan datang itu nafas kita yang terakhir atau tidak.

Nafas-nafas itu begitu cepat berlalu. Maka sangat merugi kalau nafas-nafas itu kita biarkan terhambur tanpa arti. Padahal dalam satu menit kita bisa membaca surat Al-Fatihan dan surat Al-Ikhlas. Kita juga bisa berdzikir: mengucapkan subhanallah, Al-hamdulillah dan Allahu Akbar, dsb.

Kita hidup di dunia laksana seorang musafir. Tidak ada yang berharga bagi seoang musafir selain "bekal". Maka sejatinya, dunia ini adalah "pohon yang rindang", tempat berteduh sang musafir. Jika ia tertipu dengan indahnya pohon tempatnya berteduh, ia tidak akan sampai pada tujuan. Mau tidak mau, kita semua akan menuju kepada pintu kematian.

Maka, sebelum pergi ke sana, kita berusaha untuk memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Nilai seorang Muslim bukan dinilai dari panjang pendeknya umur yang diberikan oleh Allah. Tapi akan dinilai dari apa yang diperbuatnya untuk Allah, untuk Islam. Umur yang panjang bukan jaminan kebaikan. Bisa jadi umur yang panjang malah semakin membuka pintu-pintu maksiat. Bisa jadi umur yang singkat, jika di-manage dengan baik, malah menjadi sangat bermanfaat.

"Khairu al-naasi man thala 'umruhu wa hasuna 'amaluhu, wa syarr al-nasi man thala 'umruhu wa sa’a 'amaluhu" (Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang umurnya panjang namun jelek amalnya) (HR. Ahmad dan al-Turmudzi dari Abu Bakrah).

Sebelum maut menjelang, mari kita hiasi hidup kita dengan amal saleh. Mudah-mudahan usia yang tersisa benar-benar menjadi lebih bermakan. Sehingga kita termasuk hamba Allah yang menghargai nikmat waktu yang diberikan. Ingatlah! Waktu adalah kehidupan.

Wallahu a'lamu bi al-shawab.

from Eramuslim - Ibnoe Dzulhadi