Wednesday, June 29, 2005

Mengikis Futur

Futur. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ruhiyyah seseorang yang sedang menurun. Atau dengan istilah yang lebih sederhana, futur ialah "penurunan semangat beribadah."

Ketika seseorang yang biasa bersemangat menamatkan Al-Qur'an satu juz dalam satu hari, kemudian menurun atau tiba-tiba kehilangan semangat membaca Al-Qur'an, maka itulah futur. Atau juga ketika seseorang yang jiwa sosialnya tinggi, perhatian dan peka terhadap kondisi saudara-saudaranya se-aqidah, suatu waktu ia merasa berat dan tidak mampu memperhatikan orang lain, kepekaannya menurun, egonya meningkat, dan bahkan berdiam diri ketika saudaranya sedang membutuhkan pertolongan. Atau fenomena lain dari futur adalah ketika orang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahyi munkar, tapi –suatu waktu – kemudian semangat amalnya menurun dan bahkan mungkin –ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan – akhirnya ia sendiri melakukan penyimpangan-penyimpangan amal.

Memang, futur itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada futur yang masih tergolong rendah dan ada futur yang sifatnya kronis. Futur yang terbilang rendah, biasanya tergambar dalam penurunan kualitas dan kuantitas ibadahnya saja. Artinya ia masih berada di rel yang benar, ia masih mengikuti gerbong Al-Qur'an dan as-Sunah. Meskipun, kadang ia tertatih-tatih di rel itu, dan bahkan teringgal di belakang.

Futur yang seperti ini, pada permulaannya memang tidak terlalu berbahaya, karena hal itu merupakan tabiat manusia, bahkan itulah -mungkin- yang dimaksud dengan al-imanu yazidu wa yanqusu, Iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Fluktuatif keimanan merupakan hal yang wajar bagi setiap orang, karena tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya benar, seperti halnya tidak ada yang selamanya salah.

Akan tetapi, ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan dalam rentang waktu yang cukup lama, maka tentu saja lambat laun ia akan merosot dan terus merosot. Kualitas keimanannya semakin lama akan semakin rendah dan lemah. Dan bahkan mungkin saja, ia akhirnya terperosok pada futur "skala tinggi." Bukan hanya penurunan kuantitas dan kualitas ibadahnya saja yang nampak pada dirinya, akan tetapi, lebih besar dari itu, ia tidak lagi berada pada rel ketaatan. Ke-futur-annya digambarkan dengan beralihnya taat menjadi maksiat, pahala dengan dosa. Na'udzubillah min dzalik.

Memang, manusia tidak ada yang bisa lepas dari kesalahan. Setiap orang pasti ada yang pernah berbuat kesalahan dan dosa. Karena ia bukanlah malaikat yang senantiasa patuh dan taat kepada Allah. Hal ini, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya; "Setiap Bani Adam itu pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat."

Akan tetapi, kalau kita cermati lagi hadits di atas, sebenarnya yang menjadi titik permasalahannya –dan itu yang sering tidak kita perhatikan– adalah ada atau tidaknya proses taubat yang dilakukan oleh orang yang telah berbuat kesalahan tersebut. Oleh karena itu, kesalahan –dalam batasan tertentu – bagi manusia merupakan sebuah kewajaran, akan tetapi terus menerus dan terlena dalam kesalahan tersebut merupakan ketidakwajaran.

Hal ini pun secara jelas telah disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an, Ia berfirman; "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS 4:17)

Taubat inilah yang menjadi standarnya. Oleh karena itu ketika dalam kesalahannya ia tidak segera bertaubat (kembali pada Allah), maka kesalahannya itu bukanlah sebuah kewajaran lagi. Allah berfirman, "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS 4:18)


Kembali pada permasalahan futur, maka sebenarnya yang diperlukan oleh seorang muslim adalah komitmen dan keistiqamahan dalam setiap amal. Dan tentu saja semuanya harus dibarengi dengan bertahap dan tidak berlebihan (ghuluw). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (H.R. Muslim).

Oleh karena itu, ketika ia mengalami ke-futur-an pun, maka futur-nya itu tidak keluar dari "rel yang benar", dan ia tidak melakukan sebuah penyimpangan amal. Dalam sebuah hadits pun disebutkan bahwa futur merupakan sebuah fenomena yang menggambarkan batasan juhud (kesungguhan beramal) seseorang, ada yang tetap berada dalam bi'ah imaniyyah, ada juga yang keluar dari rel dan berbuat penyimpangan.

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami ke-futur-an (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada sunnahku, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka.” (HR Imam Ahmad)

Selain dari itu, perjuangan melawan futur harus dimulai dari hati. Karena hati merupakan pusat dari segalanya, sebagaimana dalam hadits, “Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya”. Kebeningan hati dan ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis futur dan mengembalikannya kepada ghirah dan hamasah beramal yang tinggi.

Maka, di sinilah pentingnya kita senantiasa mengontrol kondisi ruhiyyah-nya, menimbangnya dengan timbangan-timbangan amal keseharian, sehingga ia bisa segera menyadari apa yang sedang terjadi pada ruhiyyah-nya.

Wallahu a’lam

from Eramuslim - Haris Ramlan

Monday, June 13, 2005

Jangan mau jadi orang gajian

Valentino -> jangan mau jadi orang gajian
1. tujuan hidup yang jelas
2. kejarlah cita-cita yang diimpikan
3. Sensor ekuity,pelajari yang telah berjalan, apakah sudah mendekati cita-cita yang diinginkan atau malah menjauhkan
4. Fleksibleity

Friday, June 03, 2005

Check List Cinta Kepada Rasulullah

Bismillahir rahmanir rahiem

Firman Allah (swt):
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Qs Al Ahzab 33:21)

Alhamdulillah, hampir setiap dari kita mengklaim bahwa kita mencintai Rasulullah (saw). Ini adalah perkara yang baik dan bagus. Namun demikian, setiap dari kita memiliki kadar cinta yang berbeda.

Sebenarnya kita dapat menghisab sendiri berapa kadar cinta kita kepada Rasulullah (saw). Caranya adalah dengan membandingkan keadaan kita terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beberapa aspek kehidupan beliau, baik yang nampak ataupun yang sampai kepada kita.

Adalah lebih mudah bagi kita untuk mengukur sesuatu dengan angka2 daripada suatu diskripsi. Untuk keperluan itu, chek list berikut ini barangkali dapat menjadi panduan (kasar) bagi kita untuk dapat mengukur hal itu. Kita dapat membandingkan berapa besar dan berapa banyak hal yang dapat kita amalkan dan kita teladani dari kehidupan suci Rasulullah (saw).

Chek list ini terdiri dari 100 point. Nilai 1 untuk point yang telah dapat kita amalkan dan nilai 0 untuk point yang belum dapat kita amalkan. Khusus bagi kaum wanita, yakni untuk beberapa hal yang hanya dapat dilakukan oleh kaum lelaki, maka nilai 1 untuk persetujuan, kesediaan atau dorongannya terhadap suami atau ayahnya dan nilai 0 untuk penolakannya.

Dakwah
Rasulullah (saw):
[ ] giat mengunjungi rumah2 yang ada di dalam kotanya.
[ ] menemui musafir2 yang berkunjung ke kotanya.
[ ] membujuk manusia meninggalkan tuhan selain Allah.
[ ] membujuk manusia untuk berbakti kepada Allah.
[ ] bergerak dari pintu ke pintu dan dari kemah ke kemah.
[ ] berjalan atas maksud dakwah ke kota (negeri) lain.
[ ] menjelajah ke penjuru2 negeri (hingga ke Tabuk).
[ ] membentuk rombongan2 dakwah ke negeri2 lain.
[ ] menjadikan sahabat2-nya da'i yang tangguh/tahan uji.
[ ] meninggalkan rumah, anak-istrinya sekitar 25 kali.

Ta'lim
Rasulullah (saw):
[ ] menyampaikan semua ayat yang diwahyukan Allah.
[ ] menyampaikan semua ilmu dan pengetahuannya.
[ ] menjadi orang pertama yang mengamalkan seruannya.
[ ] membuat orang lain memahami apa yang dipahaminya.
[ ] menjadikan sahabat2-nya yakin kepada janji2 Allah.
[ ] menghidupkan ta'lim & ta'lum di setiap rumah mukmin.
[ ] mengupayakan setiap mukmin guru bagi anak2-nya.
[ ] mengkondisikan orang2 mau menyampaikan agama.
[ ] memudahkan orang2 awam dalam memahami agama.
[ ] menjadikan sebagian sahabatnya ulama dan ahli fatwa.

Ibadah
Rasulullah (saw):
[ ] sholat dengan penuh khusyu & tawajjuh kepada Allah.
[ ] sholat dengan gerakan tu'maninah dan bacaan tartil.
[ ] adakalanya berterusan sholat hingga kakinya bengkak.
[ ] adakalanya sholat malam dengan menangis ter-isak2.
[ ] selalu cermat untuk mengeluarkan zakat dari miliknya.
[ ] puasa pada bulan ramadhan dengan se-baik2 kualitas.
[ ] menetapi puasa sunnah pada hari2 yang tertentu.
[ ] adakalanya berterusan puasa hingga beberapa pekan.
[ ] melaksanakan haji bersama keluarga & jamaahnya.
[ ] menyembelih kurban saat haji untuk setiap umurnya.

Khidmat
Rasulullah (saw):
[ ] menolong pekerjaan yang ada di rumah istri2-nya.
[ ] menyelesaikan sendiri keperluan pribadi yang ringan.
[ ] menanggung anak2 yatim dari istri2-nya yang janda.
[ ] memberi makan musafir2 yang datang ke masjidnya.
[ ] memberi makan ahli-suffah2 yang ada di masjidnya.
[ ] membiarkan masjid menjadi tempat para ahli suffah.
[ ] adakalanya meminjam untuk menjamu tamu2-nya.
[ ] menghamparkan sorbannya untuk tamu istimewa.
[ ] menyuapi orang buta yang suka men-jelek2-kannya.
[ ] pernah menggadai barang miliknya untuk hidupnya.

Jihad
Rasulullah (saw):
[ ] membangkitkan semangat jihad para sahabatnya.
[ ] memimpin sendiri beberapa safar/ekspedisi jihad.
[ ] adakalanya berada pada barisan paling depan.
[ ] tak gentar dengan minimnya pasukan & fasilitas.
[ ] memohon bantuan Allah dengan salat dan sabar.
[ ] menggali parit pertahanan bersama sahabat2-nya.
[ ] memiliki bekas luka di wajah dan di kepalanya.
[ ] memiliki sebagian gigi yang patah asbab perang.
[ ] memberi ghanimah kepada sahabat2 muhajirin.
[ ] memberi akhir hidupnya untuk sahabat2 anshar.

Tampilan
Rasulullah (saw):
[ ] memelihara rambutnya hingga ke cuping telinganya.
[ ] memelihara janggut minimal sepanjang kepalannya.
[ ] mencukur kumisnya (hingga habis atau tipis saja).
[ ] mencabuti bulu ketiaknya hingga nampak putih.
[ ] mengoleskan celak di sekitar kedua matanya.
[ ] memakai penutup kepala atau songkok (amamah).
[ ] memakai sorban (7 hasta) pada hari2 yang tertentu.
[ ] sering memakai pakaian dari kain wol yang kasar.
[ ] lebih menyukai gamis daripada pakaian lainnya.
[ ] lebih menyukai pakaian berwarna putih bagi lelaki.

Hal Nikah
Rasulullah (saw):
[ ] menikah pada usia 25 th (Fatimah pada usia 18 th).
[ ] istri pertama usianya 40 tahun (berbeda 15 tahun).
[ ] mencukupkan satu orang istri selama 25 tahun.
[ ] menikahi (menanggung) lebih dari satu orang istri.
[ ] istri pertama wanita yang sudah 2 kali menjanda.
[ ] istri kedua seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] istri ketiga seorang gadis muda anak sahabatnya.
[ ] istri keempat seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] mengundang orang2 miskin dalam acara walimah.
[ ] menikahkan banyak orang yang bersendirian.

Akhlak
Rasulullah (saw):
[ ] menjaga silaturrahmi di dalam sanak keluarganya.
[ ] mengundang makan sanak keluarga ke rumahnya.
[ ] lemah lembut kepada keluarga dan kaum wanita.
[ ] menziarahi orang sakit yang menyusahkannya.
[ ] tidak marah untuk kesalahan2 yang melukainya.
[ ] memohon hidayah bagi orang2 yang menyakitinya.
[ ] belas kasih dan sayang kepada para sahabatnya.
[ ] membalas pemberian dengan yang lebih baik lagi.
[ ] bersikap tegas kepada orang2 kafir dan musyrik.
[ ] bersikap lunak kepada orang2 munafik dan awam.

Keutamaan Lain
Rasulullah (saw):
[ ] merisaukan keselamatan ummat ini hingga wafat.
[ ] menolak kekuasaan dan mengutamakan dakwah.
[ ] menempatkan dirinya rahmat bagi seluruh alam.
[ ] bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
[ ] menangisi orang mati yang belum didakwahinya.
[ ] menampik tawaran untuk mendapat gunung emas.
[ ] menyukai keadaan sehari kenyang dan sehari lapar.
[ ] menolak lantai yang ditinggikan (meja) untuk makan.
[ ] menjilati/menyisipi jari2-nya dari bekas makanan.
[ ] membawa seorang istri dalam safar dakwah tertentu.

Kualitas Lain
Rasulullah (saw):
[ ] beberapa kali mengganjal perutnya dengan batu.
[ ] menjadikan sahabat2 utamanya 'sami'na atho'na'.
[ ] menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan2-nya.
[ ] menegur istri yang membuat tilamnya lebih empuk.
[ ] menegur istri yang membuat dinding kamar dari batu.
[ ] memberi amalan untuk benda yang diminta anaknya.
[ ] kaya pada awalnya dan miskin pada akhir hayatnya.
[ ] didukung sahabat2 setia dari Asia, Afrika dan Eropa.
[ ] mendorong safar para mukmin hingga ke ujung dunia.
[ ] memberi pengampunan massal pada hari suksesnya.

Total ___%

Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (bantuan) Allah (swt). Oleh karena itu, kepada Allah jualah kita mohon pertolongan agar Dia memberi kita kekuatan lahir & bathin untuk menjadi seperti Rasulullah (saw) 100%, tentu saja terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beliau. Subhanallah.

Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 30/05/2005