Thursday, September 22, 2005

Curhat-Q hari ini

Ya Allah...

betapa cepat engkau membolak balik hati hamba MU
betapa cepat hati berbalik atas kehendak Mu

Ya Allah...

Engkau memberi masalah beserta solusinya
Engkau memberi cobaan tapi juga mengirimkan penawarnya

Alhamdulillah... aq terlahir dalam lingkungan yang mengenal Engkau
Alhamdulillah... Ya Allah

Wednesday, September 21, 2005

Buku Sang Alkemis

Linda sedang baca Buku yang Judulnya Sang Alkemis. Sebenarnya buku itu nggak terlalu menarik kalo Linda nggak denger ungkapan seseorang di radio tentang buku itu.

Buku itu memang buku yang cukup menarik sebagai buku yang membangkitkan motivasi orang untuk mempelajari tanda-tanda di alam ini.
Tapi komentar orang di radio itu sangat sangat gimana gitu.
Dia pernah baca buku itu di London (kalo nggak salah) dan dia nggak percaya bahwa buku yang sama telah di terbitkan di Indonesia versi Indonesia.

Linda nggak habis pikir... kenapa orang itu berpikir begitu, apa buku itu terlalu hebat sehingga hanya orang hebat seperti dia saja yang pantas membaca buku itu atau orang Indonesia itu terlalu bodoh untuk memahami buku itu. aneh juga yah padahal dia itu(yang kasih komentar diradio) orang Indonesia.

Kalo dipikir-pikir dalam buku itu kita banyak di ingatkan untuk membaca alam yang dalam istilah dibuku itu disebut sebagai pertanda. Padahal kalo kita ingat surat pertama yang diturunkan Allah itu isinya Bacalah yang artinya kita memang disuruh untuk selalu membaca, bukan cuma baca buku tapi juga kita harus bisa membaca Alam dengan cara banyak memperhatikan Alam.

kembali ke buku sang alkemis itu... artinya kita diingatkan kembali untuk sering-sering mempelajari alam. buku itu cuma menjabarkan apa yang sudah ada di Al Quran.
kalo gitu sebenarnya yang hebat itu buku itu or Al-Quran yah :-?
buku itu memang bagus... tapi bagusan Al Quran tentunya.

Monday, July 04, 2005

Bagaimana AlQur'an Menjawab Permasalahan Manusia

Manusia : Kenapa aku diuji?
Qur'an :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2)

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

Manusia : Kenapa aku gagal?
Qur'an :

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Manusia : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an :

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)

Manusia : Aku frustasi!
Qur'an :

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

Manusia : Bagaimana aku harus menghadapinya?
Qur'an :

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)

Manusia : Apa yang aku dapat dari semua ini?
Qur'an :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)

Manusia : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an :

….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)

Manusia : ...................???
Qur'an :

………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)

Wednesday, June 29, 2005

Mengikis Futur

Futur. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ruhiyyah seseorang yang sedang menurun. Atau dengan istilah yang lebih sederhana, futur ialah "penurunan semangat beribadah."

Ketika seseorang yang biasa bersemangat menamatkan Al-Qur'an satu juz dalam satu hari, kemudian menurun atau tiba-tiba kehilangan semangat membaca Al-Qur'an, maka itulah futur. Atau juga ketika seseorang yang jiwa sosialnya tinggi, perhatian dan peka terhadap kondisi saudara-saudaranya se-aqidah, suatu waktu ia merasa berat dan tidak mampu memperhatikan orang lain, kepekaannya menurun, egonya meningkat, dan bahkan berdiam diri ketika saudaranya sedang membutuhkan pertolongan. Atau fenomena lain dari futur adalah ketika orang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahyi munkar, tapi –suatu waktu – kemudian semangat amalnya menurun dan bahkan mungkin –ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan – akhirnya ia sendiri melakukan penyimpangan-penyimpangan amal.

Memang, futur itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada futur yang masih tergolong rendah dan ada futur yang sifatnya kronis. Futur yang terbilang rendah, biasanya tergambar dalam penurunan kualitas dan kuantitas ibadahnya saja. Artinya ia masih berada di rel yang benar, ia masih mengikuti gerbong Al-Qur'an dan as-Sunah. Meskipun, kadang ia tertatih-tatih di rel itu, dan bahkan teringgal di belakang.

Futur yang seperti ini, pada permulaannya memang tidak terlalu berbahaya, karena hal itu merupakan tabiat manusia, bahkan itulah -mungkin- yang dimaksud dengan al-imanu yazidu wa yanqusu, Iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Fluktuatif keimanan merupakan hal yang wajar bagi setiap orang, karena tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya benar, seperti halnya tidak ada yang selamanya salah.

Akan tetapi, ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan dalam rentang waktu yang cukup lama, maka tentu saja lambat laun ia akan merosot dan terus merosot. Kualitas keimanannya semakin lama akan semakin rendah dan lemah. Dan bahkan mungkin saja, ia akhirnya terperosok pada futur "skala tinggi." Bukan hanya penurunan kuantitas dan kualitas ibadahnya saja yang nampak pada dirinya, akan tetapi, lebih besar dari itu, ia tidak lagi berada pada rel ketaatan. Ke-futur-annya digambarkan dengan beralihnya taat menjadi maksiat, pahala dengan dosa. Na'udzubillah min dzalik.

Memang, manusia tidak ada yang bisa lepas dari kesalahan. Setiap orang pasti ada yang pernah berbuat kesalahan dan dosa. Karena ia bukanlah malaikat yang senantiasa patuh dan taat kepada Allah. Hal ini, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya; "Setiap Bani Adam itu pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat."

Akan tetapi, kalau kita cermati lagi hadits di atas, sebenarnya yang menjadi titik permasalahannya –dan itu yang sering tidak kita perhatikan– adalah ada atau tidaknya proses taubat yang dilakukan oleh orang yang telah berbuat kesalahan tersebut. Oleh karena itu, kesalahan –dalam batasan tertentu – bagi manusia merupakan sebuah kewajaran, akan tetapi terus menerus dan terlena dalam kesalahan tersebut merupakan ketidakwajaran.

Hal ini pun secara jelas telah disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur'an, Ia berfirman; "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS 4:17)

Taubat inilah yang menjadi standarnya. Oleh karena itu ketika dalam kesalahannya ia tidak segera bertaubat (kembali pada Allah), maka kesalahannya itu bukanlah sebuah kewajaran lagi. Allah berfirman, "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS 4:18)


Kembali pada permasalahan futur, maka sebenarnya yang diperlukan oleh seorang muslim adalah komitmen dan keistiqamahan dalam setiap amal. Dan tentu saja semuanya harus dibarengi dengan bertahap dan tidak berlebihan (ghuluw). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (H.R. Muslim).

Oleh karena itu, ketika ia mengalami ke-futur-an pun, maka futur-nya itu tidak keluar dari "rel yang benar", dan ia tidak melakukan sebuah penyimpangan amal. Dalam sebuah hadits pun disebutkan bahwa futur merupakan sebuah fenomena yang menggambarkan batasan juhud (kesungguhan beramal) seseorang, ada yang tetap berada dalam bi'ah imaniyyah, ada juga yang keluar dari rel dan berbuat penyimpangan.

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami ke-futur-an (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada sunnahku, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futur-nya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka.” (HR Imam Ahmad)

Selain dari itu, perjuangan melawan futur harus dimulai dari hati. Karena hati merupakan pusat dari segalanya, sebagaimana dalam hadits, “Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya”. Kebeningan hati dan ketulusan iman serta keikhlasan berdoa merupakan senjata ampuh untuk mengikis futur dan mengembalikannya kepada ghirah dan hamasah beramal yang tinggi.

Maka, di sinilah pentingnya kita senantiasa mengontrol kondisi ruhiyyah-nya, menimbangnya dengan timbangan-timbangan amal keseharian, sehingga ia bisa segera menyadari apa yang sedang terjadi pada ruhiyyah-nya.

Wallahu a’lam

from Eramuslim - Haris Ramlan

Monday, June 13, 2005

Jangan mau jadi orang gajian

Valentino -> jangan mau jadi orang gajian
1. tujuan hidup yang jelas
2. kejarlah cita-cita yang diimpikan
3. Sensor ekuity,pelajari yang telah berjalan, apakah sudah mendekati cita-cita yang diinginkan atau malah menjauhkan
4. Fleksibleity

Friday, June 03, 2005

Check List Cinta Kepada Rasulullah

Bismillahir rahmanir rahiem

Firman Allah (swt):
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Qs Al Ahzab 33:21)

Alhamdulillah, hampir setiap dari kita mengklaim bahwa kita mencintai Rasulullah (saw). Ini adalah perkara yang baik dan bagus. Namun demikian, setiap dari kita memiliki kadar cinta yang berbeda.

Sebenarnya kita dapat menghisab sendiri berapa kadar cinta kita kepada Rasulullah (saw). Caranya adalah dengan membandingkan keadaan kita terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beberapa aspek kehidupan beliau, baik yang nampak ataupun yang sampai kepada kita.

Adalah lebih mudah bagi kita untuk mengukur sesuatu dengan angka2 daripada suatu diskripsi. Untuk keperluan itu, chek list berikut ini barangkali dapat menjadi panduan (kasar) bagi kita untuk dapat mengukur hal itu. Kita dapat membandingkan berapa besar dan berapa banyak hal yang dapat kita amalkan dan kita teladani dari kehidupan suci Rasulullah (saw).

Chek list ini terdiri dari 100 point. Nilai 1 untuk point yang telah dapat kita amalkan dan nilai 0 untuk point yang belum dapat kita amalkan. Khusus bagi kaum wanita, yakni untuk beberapa hal yang hanya dapat dilakukan oleh kaum lelaki, maka nilai 1 untuk persetujuan, kesediaan atau dorongannya terhadap suami atau ayahnya dan nilai 0 untuk penolakannya.

Dakwah
Rasulullah (saw):
[ ] giat mengunjungi rumah2 yang ada di dalam kotanya.
[ ] menemui musafir2 yang berkunjung ke kotanya.
[ ] membujuk manusia meninggalkan tuhan selain Allah.
[ ] membujuk manusia untuk berbakti kepada Allah.
[ ] bergerak dari pintu ke pintu dan dari kemah ke kemah.
[ ] berjalan atas maksud dakwah ke kota (negeri) lain.
[ ] menjelajah ke penjuru2 negeri (hingga ke Tabuk).
[ ] membentuk rombongan2 dakwah ke negeri2 lain.
[ ] menjadikan sahabat2-nya da'i yang tangguh/tahan uji.
[ ] meninggalkan rumah, anak-istrinya sekitar 25 kali.

Ta'lim
Rasulullah (saw):
[ ] menyampaikan semua ayat yang diwahyukan Allah.
[ ] menyampaikan semua ilmu dan pengetahuannya.
[ ] menjadi orang pertama yang mengamalkan seruannya.
[ ] membuat orang lain memahami apa yang dipahaminya.
[ ] menjadikan sahabat2-nya yakin kepada janji2 Allah.
[ ] menghidupkan ta'lim & ta'lum di setiap rumah mukmin.
[ ] mengupayakan setiap mukmin guru bagi anak2-nya.
[ ] mengkondisikan orang2 mau menyampaikan agama.
[ ] memudahkan orang2 awam dalam memahami agama.
[ ] menjadikan sebagian sahabatnya ulama dan ahli fatwa.

Ibadah
Rasulullah (saw):
[ ] sholat dengan penuh khusyu & tawajjuh kepada Allah.
[ ] sholat dengan gerakan tu'maninah dan bacaan tartil.
[ ] adakalanya berterusan sholat hingga kakinya bengkak.
[ ] adakalanya sholat malam dengan menangis ter-isak2.
[ ] selalu cermat untuk mengeluarkan zakat dari miliknya.
[ ] puasa pada bulan ramadhan dengan se-baik2 kualitas.
[ ] menetapi puasa sunnah pada hari2 yang tertentu.
[ ] adakalanya berterusan puasa hingga beberapa pekan.
[ ] melaksanakan haji bersama keluarga & jamaahnya.
[ ] menyembelih kurban saat haji untuk setiap umurnya.

Khidmat
Rasulullah (saw):
[ ] menolong pekerjaan yang ada di rumah istri2-nya.
[ ] menyelesaikan sendiri keperluan pribadi yang ringan.
[ ] menanggung anak2 yatim dari istri2-nya yang janda.
[ ] memberi makan musafir2 yang datang ke masjidnya.
[ ] memberi makan ahli-suffah2 yang ada di masjidnya.
[ ] membiarkan masjid menjadi tempat para ahli suffah.
[ ] adakalanya meminjam untuk menjamu tamu2-nya.
[ ] menghamparkan sorbannya untuk tamu istimewa.
[ ] menyuapi orang buta yang suka men-jelek2-kannya.
[ ] pernah menggadai barang miliknya untuk hidupnya.

Jihad
Rasulullah (saw):
[ ] membangkitkan semangat jihad para sahabatnya.
[ ] memimpin sendiri beberapa safar/ekspedisi jihad.
[ ] adakalanya berada pada barisan paling depan.
[ ] tak gentar dengan minimnya pasukan & fasilitas.
[ ] memohon bantuan Allah dengan salat dan sabar.
[ ] menggali parit pertahanan bersama sahabat2-nya.
[ ] memiliki bekas luka di wajah dan di kepalanya.
[ ] memiliki sebagian gigi yang patah asbab perang.
[ ] memberi ghanimah kepada sahabat2 muhajirin.
[ ] memberi akhir hidupnya untuk sahabat2 anshar.

Tampilan
Rasulullah (saw):
[ ] memelihara rambutnya hingga ke cuping telinganya.
[ ] memelihara janggut minimal sepanjang kepalannya.
[ ] mencukur kumisnya (hingga habis atau tipis saja).
[ ] mencabuti bulu ketiaknya hingga nampak putih.
[ ] mengoleskan celak di sekitar kedua matanya.
[ ] memakai penutup kepala atau songkok (amamah).
[ ] memakai sorban (7 hasta) pada hari2 yang tertentu.
[ ] sering memakai pakaian dari kain wol yang kasar.
[ ] lebih menyukai gamis daripada pakaian lainnya.
[ ] lebih menyukai pakaian berwarna putih bagi lelaki.

Hal Nikah
Rasulullah (saw):
[ ] menikah pada usia 25 th (Fatimah pada usia 18 th).
[ ] istri pertama usianya 40 tahun (berbeda 15 tahun).
[ ] mencukupkan satu orang istri selama 25 tahun.
[ ] menikahi (menanggung) lebih dari satu orang istri.
[ ] istri pertama wanita yang sudah 2 kali menjanda.
[ ] istri kedua seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] istri ketiga seorang gadis muda anak sahabatnya.
[ ] istri keempat seorang janda yang suaminya wafat.
[ ] mengundang orang2 miskin dalam acara walimah.
[ ] menikahkan banyak orang yang bersendirian.

Akhlak
Rasulullah (saw):
[ ] menjaga silaturrahmi di dalam sanak keluarganya.
[ ] mengundang makan sanak keluarga ke rumahnya.
[ ] lemah lembut kepada keluarga dan kaum wanita.
[ ] menziarahi orang sakit yang menyusahkannya.
[ ] tidak marah untuk kesalahan2 yang melukainya.
[ ] memohon hidayah bagi orang2 yang menyakitinya.
[ ] belas kasih dan sayang kepada para sahabatnya.
[ ] membalas pemberian dengan yang lebih baik lagi.
[ ] bersikap tegas kepada orang2 kafir dan musyrik.
[ ] bersikap lunak kepada orang2 munafik dan awam.

Keutamaan Lain
Rasulullah (saw):
[ ] merisaukan keselamatan ummat ini hingga wafat.
[ ] menolak kekuasaan dan mengutamakan dakwah.
[ ] menempatkan dirinya rahmat bagi seluruh alam.
[ ] bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
[ ] menangisi orang mati yang belum didakwahinya.
[ ] menampik tawaran untuk mendapat gunung emas.
[ ] menyukai keadaan sehari kenyang dan sehari lapar.
[ ] menolak lantai yang ditinggikan (meja) untuk makan.
[ ] menjilati/menyisipi jari2-nya dari bekas makanan.
[ ] membawa seorang istri dalam safar dakwah tertentu.

Kualitas Lain
Rasulullah (saw):
[ ] beberapa kali mengganjal perutnya dengan batu.
[ ] menjadikan sahabat2 utamanya 'sami'na atho'na'.
[ ] menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan2-nya.
[ ] menegur istri yang membuat tilamnya lebih empuk.
[ ] menegur istri yang membuat dinding kamar dari batu.
[ ] memberi amalan untuk benda yang diminta anaknya.
[ ] kaya pada awalnya dan miskin pada akhir hayatnya.
[ ] didukung sahabat2 setia dari Asia, Afrika dan Eropa.
[ ] mendorong safar para mukmin hingga ke ujung dunia.
[ ] memberi pengampunan massal pada hari suksesnya.

Total ___%

Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (bantuan) Allah (swt). Oleh karena itu, kepada Allah jualah kita mohon pertolongan agar Dia memberi kita kekuatan lahir & bathin untuk menjadi seperti Rasulullah (saw) 100%, tentu saja terhadap hal2 yang dapat kita teladani dari beliau. Subhanallah.

Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 30/05/2005

Friday, May 20, 2005

Muhasabah Q

Wah sampai sekarang udah banyak yang aq langgar.
>>1. Nggak boleh males bangun malam tuk QL
mo QL eh bangunnya pas subuh... nggak jadi deh :-)
>>2. Nggak boleh bobo lagi setelah subuh...
kalo ini mah udah diisi dengan ngobrol dengan Sari
>>3. Nggak boleh ngenet pagi dari rumah, sebab bisa males kekantor.....
ini juga dilanggar sebab Sari minta ajarin cara register di MyQ
>>4. Jam 8 siap-siap kekantor.
ini juga bablas, karena asik ngobrol dan leyek-leyeh

kalo yang ini akan dijalanin cuma belom siap siap juga neh....
5. Untuk besok aq mo ke mang2 dulu beli hardware(moga aja dolar lagi murah)
6. Kekantor...

Cur-Hat

Wah kemarin aq sedih juga deh, dateng kekantor nggak ada kerjaan...

Nggak enak juga sih, soalnya nyampe kantor udah jam 15.30. Kebangetan juga sih, masa dateng jam segitu. Cuma males banget untuk dateng lebih awal, karena temen-temen juga dateng diatas jam 12.

Tapi setelah aq pikir lagi, aq jadi agak sedikit terhibur. Sebab kemarin itu teman-temanku sibuk mengurus program undian berhadiah untuk pelanggan. Aq pikir sih bagus juga kemarin agak BT dan nggak nyumbang terlalu banyak kerja untuk program undian itu.

Ya ini lah masalahku sekarang, mo berisaha ibadah secara kaffah cuma belum hijrah. Semoga Allah memberi kesempatan aq untuk hijrah dalam waktu yang tidak terlalu lama, Amin

Thursday, May 19, 2005

Diary, aq lagi males nih....

Demi masa....
Sesungguhnya manusia dalam kerugian....


Padahal udah tau kalo akan rugi tapi masih juga bermalas-malasan.
Hari ini aq pergi ke kantor dengan males...
udah dateng siang pake acara ke Blok M dulu lagi...
nyampe kantor jam 15.30

aduh.... gimana yah biar hidup ini nggak jadi orang yang rugi....

Padahal aq lagi pengen banyak meningkatkan amalan-amalan, tapi kenapa males menghinggapi diriku terus... gimana nih....
Padahal banyak cita-citaku yang harus di perjuangkan tapi kenapa diri ini belum cukup bersungguh-sungguh juga.

Mulai besok aq harus berubah....!!!

1. Nggak boleh males bangun malam tuk QL
2. Nggak boleh bobo lagi setelah subuh...
3. Nggak boleh ngenet pagi dari rumah, sebab bisa males kekantor.....
4. Jam 8 siap-siap kekantor.
5. Untuk besok aq mo ke mang2 dulu beli hardware(moga aja dolar lagi murah)
6. Kekantor...
7. Nyiapin komputer mbakyu pepi biar bisa selesai hari Sabtu
8. pulang kantor jam 7 malem dan jangan biasain pulang lewat dari jam itu...(biar nggak kebawa arus kantor)
9.
Jangan lupa muhasabah besok, sekalian cek list apa catatan hari ini banyak yang nggak sesuai jadwal...
10. Bobo jam 10 biar aktifitas besoknya OK.

Tuesday, May 17, 2005

Waktu adalah Kehidupan

Waktu adalah Kehidupan

Tidak yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain "waktu". Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Saking mahalnya, Allah (sampai) bersumpah: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal saleh, (saling) nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam (menapaki) kesabaran" (Qs. Al-'Ashr [103]: 1-3).

Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah "kehidupan", al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata as-Syahid Hasan Al-Banna. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan umatnya agar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan lima hal.

Beliau bersabda:
Manfaatkanlah (oleh kalian) lima hal sebelum datang lima hal
masa mudamu sebelum tiba masa tuamu,
waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
masa kayamu sebelum datang waktu fakirmu,
waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu dan
hidupmu sebelum datang kematianmu

(HR. Hakim. Sanadnya shahih dari Ibnu Abbas).

Pertama, masa muda. Masa muda adalah masa keemasan seorang manusia. Ia merupakan masa ideal untuk melakukan apa saja: mengukir prestasi dan menggapai cita-cita. Bahkan, masa muda adalah masa yang harus "dipertanggungjawabkan" di hadapan Allah.

Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw: "Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut" (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Bayangkan, setelah Allah mempertanyakan "umur", Ia mempertanyakan "masa muda" secara khusus. Dalam Islam, masa muda adalah bagian dari "umur". Ia dianggap sebagai masa yang dinamis, energik, cekatan dan kuat, karena ia merupakan "kekuatan" di antara dua kelemahan: kelemahan anak-anak dan kelemahan masa tua.

Hal ini dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban..." (Qs. Ar-Rum [30]: 54).

Oleh karenanya, Islam memiliki perhatian khusus kepada para pemuda. "Suatu ketika, khalifah Umar radhiyallahu 'anhu duduk dengan para sahabatnya. Ia berkata kepada mereka: "Berangan-anganlah kalian!" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku berangan-angan, seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas untuk aku infakkan di jalan Allah." Umar lalu berkata: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Salah seorang lagi berkata: "Aku berangan-angan sekiranya rumah ini dipenuhi dengan permata agar aku infakkan di jalan Allah dan bersedekah dengannya." Lalu Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Mereka lalu berkata: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan wahai Amirul mukminin?" Umar berkata: "Aku justeru berangan-angan agar ada orang-orang seperti Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu'adz ibn Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, agar aku dapat meninggikan "kalimat Allah" dengan bantuan mereka."

Bayangkan, Umar malah menginginkan para pemuda. Bukankah Mu'adz ibn Jabal seorang faqih yang diutus oleh Rasul ke Yaman? Ketika itu usianya masih muda. Begitu juga dengan Salim: ia termasuk salah seorang perawi hadits. Usianya juga masih muda. Dalam sejarah Islam juga dikenal Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel. Saat itu usianya tidak lebih dari 22 tahun.

Tidakkah kita lihat seorang Usamah ibn Zaid pergi ke medan perang ketika usianya masih 15 tahun. Padahal ketika usinya 14 tahun semangat jihadnya sudah berapi-api: ia ingin cepat berada di shaf para mujahid Allah. Namun Nabi saw melarangnya, karena masih teramat muda. Ia juga pernah menjadi pemimpin pasukan Rasul, padahal saat itu para sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ada. Namun Rasul saw mempercayakan kepadanya.

Adalah hal yang ironis jika masa muda dihabiskan untuk "berfoya-foya". Apalagi dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Dan, na'udzubillah, jika sampai melakukan tindak kriminal yang tidak diridhai oleh Allah, seperti mengkonsumsi NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif) dan hobi "mencekek leher botol" alias mabuk-mabukan. Ini sama artinya menghancurkan umat. Tidak dapat dibayangkan jika para pemuda justru tidak produktif. Apa yang akan dipersembahkan untuk Islam?

Kedua, masa sehat. Pepatah Arab menyatakan: "As-Shihhatu tajun 'ala ru'us al-asiha' laa yaraaha illa al-mardha" (Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat dan tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang yang sakit). Itulah kesehatan. Kita terkadang lupa akan arti dan makna kesehatan, kecuali setelah kesehatan itu hilang dari kita. Ketika "sakit" datang menggantikannya, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu mahal. Masa sehat sebaiknya kita gunakan untuk beramal saleh: membantu orang tua, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, sebelum kita kita tidak bisa berbuat banyak. Kalau masa sakit sudah tiba, kita tidak akan pernah sempurna melakukan apapun: ibadah terganggu, pekerjaan terbengkalai, semangat menurun, dsb. Maka manfaatkanlah "masa sehat" ini dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, masa kaya. Kekayaan adalah "titipan Allah". Maka, ia tidak layak untuk disombongkan dan dibanggakan. Selagai masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah kekayaan itu untuk berbakti kepada Allah: membiayai edukasi anak, berinfak di jalan Allah (membangun masjid, rumah sakit, madrasah, dsb), membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar, membiayai panti asuhan, dan lain-lain. Karena, jika sudah jatuh miskin, kesempatan untuk beramal saleh pun sirna. Maka, segeralah nafkahkan harta yang ada, sebelum semuanya sia-sia. Utsman ibn Affan adalah contoh ideal dalam berinfak. Ia membeli sumur Maimunah untuk kepentingan kaum Muslimin. Begitu juga dengan Abdurrahman ibn 'Auf. Ia adalah contoh konglomerat yang dermawan: orang kaya tapi takut harta. Lain lagi dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq: ia meninggalkan "seonggok batu" untuk keluarganya. Ia menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Beliau bahkan berlomba dengan Umar ibn Khaththab. Akhirnya ia menang, karena Umar ibn Khaththab menafkahkan setengah dari hartanya, sedangkan ia menafkahkan seluruh hartnya di jalan Allah.

Keempat, masa luang. Waktu luang adalah kesempatan emas untuk menginventarisir kebajikan. Waktu luang ini akan sia-sia jika tidak dikontrol. Ia akan terbuang begitu saja jika tidak langsung dimanfaatkan. Oleh sebab itu makanya Nabi saw mengingatkan: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang (kekosongan)" (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Waktu luang adalah "kekosongan": kosong dari kegiatan yang positif. Jangan biarkan waktu itu kosong melompong dan berlalu tanpa makna. Tidakkah kita ingin waktu luang itu kita isi dengan membaca Alquran, shalat Dhuha, shalat Witir, shalat Tahajjud, dsb. Janganlah waktu luang itu dikhianati dengan "senda gurau" yang tak bermakna. Karena jumlah waktu itu sama di mana saja, 24 jam.
Bagi tigalah ia: sebagian untuk kesehatan (istirahat, olah-raga, bercanda seperlunya), sebagian lagi untuk jasmani (makan dan minum) dan sepertiga terakhir untuk Allah.

Imam Ibnu Jarir al-Thabari menurut al-Khathib al-Baghadadi dari al-Samsiy, setiap harinya mampu menulis sekitar empat puluh lembar. Jangan berleha-leha dalam memburu kebaikan. Imporlah segala jenis kebaikan, lalu eksporlah ia ke akhirat sana. Al-Tu'adatu fi kulli syain khairun illa fi a'mal al-akhirah (Berlaku santai dalam setiap sesuatu itu baik, kecuali dalam amal akhirat), kata Umar ibn Khaththab.

Imam Nawawi ra memberikan nasehat yang sangat berharga: "Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu untuk mengumpulkan ilmu di waktu luang dan semangat yang menggebu-gebu, masa muda dan ketika tubuh masih kuat, ketika keinginan masih menggunung dan kesibukan masih sedikit sebelum tiba hal-hal yang tanpa makna".

Kelima, hidup. Kesempatan hidup hanya sekali. Umur begitu singkat. Kita mengira umur itu begitu panjang. Padahal ia hanya terdiri dari tiga helaan nafas: nafas yang lalu, yang sudah kita hempaskan; nafas yang sedang kita hirup dan akan kita hembuskan; dan terakhir nafas yang akan datang. Kita tidak tahu apakah nafas yang akan datang itu nafas kita yang terakhir atau tidak.

Nafas-nafas itu begitu cepat berlalu. Maka sangat merugi kalau nafas-nafas itu kita biarkan terhambur tanpa arti. Padahal dalam satu menit kita bisa membaca surat Al-Fatihan dan surat Al-Ikhlas. Kita juga bisa berdzikir: mengucapkan subhanallah, Al-hamdulillah dan Allahu Akbar, dsb.

Kita hidup di dunia laksana seorang musafir. Tidak ada yang berharga bagi seoang musafir selain "bekal". Maka sejatinya, dunia ini adalah "pohon yang rindang", tempat berteduh sang musafir. Jika ia tertipu dengan indahnya pohon tempatnya berteduh, ia tidak akan sampai pada tujuan. Mau tidak mau, kita semua akan menuju kepada pintu kematian.

Maka, sebelum pergi ke sana, kita berusaha untuk memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Nilai seorang Muslim bukan dinilai dari panjang pendeknya umur yang diberikan oleh Allah. Tapi akan dinilai dari apa yang diperbuatnya untuk Allah, untuk Islam. Umur yang panjang bukan jaminan kebaikan. Bisa jadi umur yang panjang malah semakin membuka pintu-pintu maksiat. Bisa jadi umur yang singkat, jika di-manage dengan baik, malah menjadi sangat bermanfaat.

"Khairu al-naasi man thala 'umruhu wa hasuna 'amaluhu, wa syarr al-nasi man thala 'umruhu wa sa’a 'amaluhu" (Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang umurnya panjang namun jelek amalnya) (HR. Ahmad dan al-Turmudzi dari Abu Bakrah).

Sebelum maut menjelang, mari kita hiasi hidup kita dengan amal saleh. Mudah-mudahan usia yang tersisa benar-benar menjadi lebih bermakan. Sehingga kita termasuk hamba Allah yang menghargai nikmat waktu yang diberikan. Ingatlah! Waktu adalah kehidupan.

Wallahu a'lamu bi al-shawab.

from Eramuslim - Ibnoe Dzulhadi